Beranda > Nasional > Said Didu dan Faisal Basri Diminta Jaga Etika Berbicara

Said Didu dan Faisal Basri Diminta Jaga Etika Berbicara

Jakarta-Saat ini bangsa Indonesia sedang berjuang melawan Virus Corona Disease 2019 atau Covid-19. Hal ini bukan saja menjadi tanggungjawab pemerintah. Tetapi merupakan tanggungjawab seluruh masyarakat Indonesia. Mari kita support dan ikuti himbauan pemerintah. Sehingga penyebaran virus covid-19 ini bisa diminimalisir. Hal ini disampaikan Yudhi Simorangkir, aktivis Horas Halak Hita, Sabtu (4 April 2020) kepada redaksi Suaranesia.co.

Menurutnya, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah tidak hanya mengobati yang sakit. Tetapi pemerintah juga selalu menghimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga diri dengan cara jaga jarak, tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang, cuci tangan dengan sabun, makan bergizi, istirahat yang cukup, dan himbauan-himbauan lainnya.

“Yang kita hadapi bersama tidak saja hanya soal Covid-19. Tetapi kita juga menghadapi tipikal dan mental bangsa Indonesia yang sangat memprihatinkan. Banyak masyarakat yang kurang literasi informasi. Sehingga acapkali dimanfaatkan oleh oknum dengan cara menyebar ucapan-ucapan yang tidak pantas dan tanpa kajian data. Hal inilah yang meresahkan masyarakat,” pungkasnya.

Dikatakan Yudhi, Said Didu merupakan seorang ASN yang lari dari tanggungjawab dan memilih mundur hanya untuk ikut terjun dalam politik. Seharusnya Said Didu menunjukkan bahwa dirinya pernah menjabat sebagai seorang birokrat, yang tentunya sudah memahami mekanisme dalam menjalankan suatu kebijakan ataupun mekanisme lainnya.

“Bagaimana kita yakin atas perkataanya, padahal dia saja tidak tuntas dalam menjalankan pengabdiannya sebagai abdi negara. Beliau malah sibuk menyebarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, apalagi tanpa kajian dan data,” imbuhnya.

Begitu juga ahli ekonom Pak Faisal Basri yang sudah memiliki pengalaman. Pasti sudah paham dengan kondisi saat ini. Tetapi kok seenaknya saja menyerang pribadi orang lain (tendensius).

“Sebagai generasi muda Indonesia, kita sangat malu jika para orangtua  atau guru bangsa masih mau menyerang pribadi orang lain. Hal itu tidak mencerminkan nilai-nilai kebudayaan Indonesia, kedewasaan dalam berpikir, maupun etika,”tegas dia.

Menurut Yudhi, saat ini Indonesia bukan mencari kambing hitam. Negara membutuhkan kerjasama yang baik antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

“Sebagai warga negara, kita terpanggil dalam panggilan tugas kebangsaan (call of nation) sebagai landasan berbangsa dan bernegara, di mana persatuan dan kemanusiaan adalah yang paling mulia dan penting. Mari kita tinggalkan perbedaan warna dan sikap politik menghadapi covid-19 ini,” tegas Yudhi.

Selama ini pemerintah sudah melakukan kajian dengan matang, yang tentunya kebijakan tersebut pasti diprioritaskan kepada masyarakat lemah sebagai penerima manfaat. Sebagai contoh adalah keringanan dalam pembayaran kredit. Sekarang bagaimana kebijakan itu tepat sasaran dan berdampak kepada semua pihak. Itu yang harus tetap kita kawal.

“Jangan lupa untuk tetap mendoakan pemerintah dan jajarannya. Supaya  mereka mampu bekerja di tengah tantangan global, memulihkan ekonomi, mencukupkan kebutuhan hidup dan kesehatan masyarakat Indonesia,” tutup Yudhi.

Baca juga  ISPI Minta Presiden Keluarkan Intruksi Untuk Perusahaan Swasta Bantu Masyarakat Terdampak Covid-19

Tentang Suara Nesia

Kritis Mencerdaskan Bangsa

Lihat Juga

Istri Walikota di laporkan karna prokes, Ketua Imkobi Jakarta menilai itu tidak rasional.

Ketua Umum IMKOBI JAKARTA menilai laporan yang diajukan ke POLRES Kota Bima merupakan langkah yang …

Tinggalkan Balasan

SuaraNesia.co
%d blogger menyukai ini: