Beranda > Nasional > Refleksi: Perkaderan Dalam Ikhtiar

Refleksi: Perkaderan Dalam Ikhtiar

OPINI, Suaranesia.co – Sebagai ajaran yang sempurna, Islam menuntun pada pemaksimalan penggunaan akal guna mencapai kesempurnaan manusia dari segi duniawi maupun ukhrawi. Dengan panduan utuh yang disebut kitab suci sebagai alat dan media penuntut manusia dalam menjalani kehidupan serta mencari kerelaan Tuhan di dalam kehidupannya.

Jadi wajib bagi setiap muslim menjalani perintah dan menjalankan semua tatanan kehidupan dengan harapan mencari ridho di dalam setiap aktivitasnya. Ketika segala sesuatu sudah ter-setting menjadi tujuan ilahiyah maka menjadi sangat aneh ketika koridor perilaku kita masih saja terjebak dalam ke-jahiliyah-an dan pikiran pragmatis semata.

Maka dari itu konsepsi ketaatan dan keimanan harus menjadi pegangan setiap manusia dalam menjalankan kehidupannya selama di dunia. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai bagian dari insan sempurna itu tidak lepas dari tanggung jawab besar; keumatan dan kebangsaan yang semestinya dijunjung dan diperjuangkan demi mencapai tujuan bersama HMI yang tertuang di pasal 4 Anggaran Dasar.

Maka demi mencapai tujuan yang besar itu setiap elemen HMI harus memiliki sinergitas yang kuat yang dimulai dari dirinya sendiri atau dengan kata lain, semua ini dimulai dengan implementasi nilai-nilai keislaman dalam diri kader HMI itu sendiri. Berhenti berbicara soal Tuhan kalau pada akhirnya Tuhan hanya menjadi bahan ghibah tanpa ada bentuk ketundukan dan ketaatan serta ritus yang baik sebagai bentuk ketaatan dan kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa.

Sederhanya memperbaiki amal dan ibadah dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam menjadi perlu sebagai pemantik semangat perjuangan dan awal dari revolusi ubudiyah yang selama ini jarang bahkan ditinggalkan oleh banyak anak HMI. Padahal dalam tatanan beragama suka atau tidak, terima atau tidak tatanan ritus adalah bentuk pengabdian paling dasar manusia pada Tuhannya dan landasan paling hakiki dalam berjuang.

Baca juga  Begini Tanggapan GAMKI, Soal Masih Banyak Rumah Ibadah Yang Disegel

Al-Qur’an pun beberapa kali menyentil manusia untuk mejadikan ritus (Shalat) sebagai bentuk penolong dalam setiap kehidupan manusia. Termasuk dalam ranah perjuangan itu sendiri. Lebih jauh dari itu sebagai kader HMI penerapan nilai-nilai keislaman seharusnya sudah menjadi keseharian dan mendarah daging sebagai bentuk ketaatan terhadap Asas HMI yang tertuang dalam pasal 3 AD; HMI berasaskan Islam.

Selain tanggung jawab dalam bentuk Ubudiyah kader HMI pun dituntut bertanggung jawab dalam bidang akademik sebagai tanggung jawab utama seorang mahasiswa. Dalam hal ini, mahasiswa tidak hanya dikenal dengan fungsi-fungsi seperti: Agent Of Change, Agent Of Social Control. Namun, juga fungsi akademis. Fungsi Akademis bukan hanya berbicara soal IPK namun juga peran sebagai insan akademis yang dituntut pengabdiannya seperti yang tertera di dalam Tri Darma Perguruan Tinggi.

Maka dari itu sangat tidak masuk akal ketika mahasiswa mengaku sebagai seorang aktivis tanpa memikirkan aspek akademis bahkan untuk bersikap acuh pun terdengar lucu dan sangat tidak masuk akal karena secara tidak langsung mengingkari semangat aktivis yang akademis bahkan dalam sejatinya seorang aktivis HMI dituntut untuk menjadi seorang insan yang akademis sebagai penekanan awal tujuan HMI.

Baca juga  GMKI MEDAN Dan HKI PUSAT Laksanakan KLK dengan Tema : Pemuda Dalam Perjuangan Keadilan Ekologi

Sebagai bagian dari umat Islam dunia dan juga pergerakan Islam Indonesia sudah sewajarnya bila seorang kader HMI memiliki rasa keumatan dan kebangsaan yang tinggi terkhusus dalam gerak juang dan nafas perjuangannya. Kontribusi HMI dalam perjuangan kebangsaan dan keumatan bahkan sudah terbukti jauh sejak tahun 1947 ketika awal HMI berdiri.

Perjuangan yang panjang itu harus menjadikan seorang kader HMI memiliki rasa tanggung jawab serta loyalitas penuh di dalam gerak langkah perjuangan sebagai bentuk solidaritas dan semangat untuk tetap perjuangan untuk mencapai kegemilangan umat dan bangsa di masa yang akan datang sebagai bentuk responsif nyata terhadap perkembangan zaman yang semakin modern dan tantangan bangsa yang semakin berat lagi.

Apalagi hari ini umat dan bangsa di Indonesia sedang berada dibawah bayang-bayang disintegrasi dan polarisasi akibat segelintir orang yang ingin berebut kuasa. Kader HMI sejatinya harus mampu dan bisa memposisikan dirinya sebagai poros tengah sebagai gerak perjuangannya hari ini sebagai intepretasi dan juga pengamalan nilai Independesinya. Jangan pada akhirnya seorang kader HMI tenggelam dalam euforia (abangda) atau ikut terjerumus dan menjadi bagian perpecahan bangsanya sendiri.

Maka secara pondasi keorganisasian HMI harus lebih diperkuat dan jangan sampai pada akhirnya menjadi keropos karena kepentingan-kepentingan segelintir pihak dari luar organisasi. Guna membangun fondasi itu seorang kader HMI harus memiliki mentalitas dan juga sikap yang terbangun melalui forum-forum kaderisasi yang kokoh guna membangun mentalitas yang kuat dalam diri tiap kader.

Baca juga  HMI: Kelompok Radikal Di Dalam BUMN Harus Diatasi Bersama

Hal ini secara khusus adalah tugas instruktur-instruktur yang harus tetap merapatkan barisan dan meningkatkan semangat ikhtiar perkaderan guna menyongsong tantangan perkaderan di masa depan. Guna menciptakan iklim yang kaderisasi yang sehat maka diperlukan instruktur yang berkompeten dan bisa diandalkan serta mampu menginternalisasikan nilai-nilai perjuangan dan nilai-nilai perkaderdan agar terciptanya instruktur hebat di masa yang akan datang.

Oleh karena itu untuk mencapai itu maka semua elemen dalam tubuh HMI harus bekerja beriringan dan bersinergi untuk mencapai dan menciptakan iklim kaderisasi yang jauh dari kata politis, pragmatis, dan money oriented sehingga secara bersamaan mampu meningkatkan loyalitas kader serta semangat juang yang dilandasi pada keikhlasan dan kepasrahan akan ridho Allah SWT.

Nur Cahyono
Penulis Adalah, Ketua Umum Badan Pengelola Latihan (BPL) PB Himpunan Mahasiswa Islam, Periode 2018-2020.

Tentang Suara Nesia

Kritis Mencerdaskan Bangsa

Lihat Juga

Kisruh UU Cipta Kerja: Aktivis Ancam Kepung Reses Anggota DPR Willy Aditya dan Ach Baidowi

Madura- Sejumlah aktivis penolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang berasal dari Madura menyerukan untuk …

Tinggalkan Balasan

SuaraNesia.co
%d blogger menyukai ini: