Beranda > Opini > Natal : Euforia atau Mengikuti Teladan Sang Maha Agung

Natal : Euforia atau Mengikuti Teladan Sang Maha Agung

Oleh : Perawati Silalahi, S.Pd

 “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2:11-12).

Kelahiran Yesus sebagai Sang Juruselamat diperingati setiap tanggal 25 Desember dimana umat Kristiani di seluruh penjuru dunia merayakannya dengan euforia yang penuh sukacita. Ornamen natal yang biasaanya berupa hiasan pohon Natal, baju baru, dan berbagai jenis kue yang enak merupakan simbol bahwa Natal telah tiba. Natal menjadi ajang untuk menunjukkan eksistensi seseorang ataupun suatu kelompok. Tidak sedikit kelompok merayakan Natal dengan mengeluarkan dana dengan jumlah yang sangat fantastis. Dana ini mereka alokasikan untuk membeli pohon Natal yang bagus, menyewa gedung mewah dan sampai membayar honor pendeta dan artis-artis papan atas untuk menghibur setiap yang datang ke acara Natal tersebut. Seketika Natal mengubah umatNya menjadi orang-orang yang hedonisme. Para orangtua akan membawa anak-anak mereka ke berbagai pusat perbelanjaan untuk membelikan baju terbaik, sepatu-sepatu mahal yang akan digunakan nantinya di malam Natal. Kemudian membeli berbagai jenis petasan yang akan turut memeriahkan kelahiran Isa Almasih yang sudah lahir di kandang domba, di tempat yang paling hina tersebut.

Euforia Natal pada hari ini sangat jauh dari makna kelahiran yang sesungguhnya. Mengapa?

Yesus lahir sebagai representasi dari orang miskin dan kaum tertindas. Hal ini bisa kita lihat dari dimana Yesus lahir dan juga kepada siapa berita kelahiran pertama kali disampaikan. Yesus lahir di palungan yang dalam bahasa Inggris berarti manger, trough adalah sebuah wadah yang terbuat dari konstruksi logam, kayu, atau batu berukir, dan digunakan untuk menampung makanan bagi hewan (misalnya dalam kandang kuda). Palungan merupakan suatu kandang bukan penginapan di Betlehem dan tempat inilah yang digunakan untuk tempat dimana Sang Agung yang akan membebaskan manusia dari tangisan, kelaparan, kematian dan berbagai bentuk penindasan lain dilahirkan. Berita kelahiran Sang Juruselamat pertama kali diberitakan kepada para gembala yang tinggal di padang untuk menjaga kawanan ternak mereka pada malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa Dia lahir untuk kaum yang termarginalkan karena gembala pada masa itu adalah simbol orang rendah, orang tersisihkan dan terbuang. Mereka tak punya status sosial dalam masyarakat.

Baca juga  Ancaman Disrupsi Nasionalisme

Allah Bapa mengutus AnakNya yang tunggal bertranformasi menjadi manusia adalah untuk misi pembebasan. Yesus lahir untuk membebaskan manusia dari sebuah sistem yang menindas dan membawa manusia ke dunia yang baru, dunia yang penuh kasih.

Keteladanan Yesus untuk membebaskan manusia dari belenggu penindasan sangat jelasan diceritakan dalam Injil. Dalam Injil Lukas diceritakan bagaimana di antara kerumunan banyak orang, Dia merasakan sentuhan tunggal seorang wanita yang meminta belas kasihan untuk menyembuhkan penyakit yang telah dideritanya kira-kira dua belas tahun. Pada kesempatan lain, Dia memberikan kesempatan untuk bertobat dan tidak berbuat dosa lagi kepada seorang perempuan pelacur yang telah dikutuk dan dituduh kebanyakan orang (Injil Yohannes). Kedua hal ini menunjukkan bahwa Yesus sangat akrab dengan kaum perempuan dan Dia menghargai harkat dan martabat setiap umat manusia. Sementara dalam Injil Markus Sang Juruselamat menyempatkan waktu untuk mencermati seorang janda yang memasukkan uang dua pesernya. Dan lebih menakjubkan lagi ketika bergantung dalam keperihan di atas kayu salib, Dia mengabaikan penderitaan-Nya sendiri dan memberikan perhatian kepada perempuan yang sedang menangis yang telah memberi Dia kehidupan (Yohanes 19:25–27).

Baca juga  Prestasi Polri: Idham Azis & Listyo Sigit Prabowo Maknai Komitmen Jokowi Tangkap Dan Tindak Djoko Tjandra

Melihat bagaimana semasa hidupnya menjadi manusia Yesus hidup dengan penuh kasih, harusnya momen Perayaan Natal menjadi momen bagi seluruh umat Kristiani untuk kembali merenungkan sudah sejauh mana misi pembebasan Yesus Kristus dilanjutkan oleh umatNya. Keberpihakan kepada kaum miskin dan terpinggirkan menjadi keteladanan yang harus dilanjutkan oleh pengikutnya.

Namun meningkatnya jumlah kemiskinan dan kelaparan saat ini menunjukkan bahwa semangat Misi Pembebasan Isa Almasih di dunia sudah redup. Peperangan terjadi di berbagai negara. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam, kekeringan dan bahkan sampai merenggut nyawa. Konflik-konflik perampasan tanah dan penggusuran menyebabkan petani miskin dan kelaparan. Upah buruh yang sangat murah menjadikan anak-anaknya kurang gizi dan tak mampu mengenyam pendidikan. Begitu banyak persoalan-persoalan yang terjadi di dunia ini, dan harusnya momen Natal diperingati untuk membangkitkan semangat misi Pembebasan Sang Juruselamat. Semangat untuk bangun bersama-sama menghancurkan sistem yang menindas. Karna Yesus Sang Juruselamat adalah bagian dari anak yang kelaparan, petani miskin yang kehilangan tanah, dan buruh yang mendapat upah murah. Maka dari itu, mari bangkitkan kembali semangat Misi Pembebasan Sang Juruselamat karna seperti kata Soekarno bahwa Tuhan hadir di gubuk-gubuk si miskin.

Baca juga  Wajah Baru Ditubuh Kumandang Banten

Selamat hari Natal buruh, petani dan para kaum terpinggirkan

Selamat menyambut kelahiran Sang Revolusioner.

 

(penulis adalah Sekretaris Cabang GMKI Medan Masa bakti 2017-2019, dan aktivis perempuan dikota Medan)

Tentang Suara Nesia

Kritis Mencerdaskan Bangsa

Lihat Juga

Mualimin Melawan Pemberi Warna HMI

(Ditulis oleh: Sekretaris Umum HMI Cabang Cilegon, Fauzul Imam Syafi’i) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) makin …

Tinggalkan Balasan

SuaraNesia.co
%d blogger menyukai ini: