Beranda > Regional > Menuju Pilpres 2019: Hoax Sebagai Ancaman Identitas Kebangsaan

Menuju Pilpres 2019: Hoax Sebagai Ancaman Identitas Kebangsaan

Suaranesia.co, Jakarta – “Beredarnya informasi dan pesan hoax ini menjadi paradoks dan ambigu. Di satu sisi para pasangan calon berusaha menunjukkan diri mereka di publik sebagai sosok yang toleran, inklusif, dan menjaga keberagaman. Namun di sisi lain, pendukung dan simpatisan masing-masing paslon masih berupaya menjatuhkan paslon lainnya dengan alasan identitas agama” tutur Dodi Lapihu, Direktur Lembaga Studi Kajian Kebijakan Lokal di Indonesia (LSKLI) saat konperensi pers di Tebet, Jakarta. Jumat (28/12/2018).

Menuju Pilpres 2019, Calon presiden dan calon wakil presiden baik dari paslon nomor urut 01 maupun paslon nomor urut 02 telah menyampaikan ucapan selamat merayakan hari raya Natal bagi umat Kristen di seluruh Indonesia. Ucapan ini dimaknai sebagai wujud dari toleransi dan komitmen kebangsaan setiap pasangan calon.

Namun, di media sosial, ucapan selamat Natal tersebut justru dipelintir dan dijadikan sebagai bahan kampanye hitam oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab. Terdapat video hoax ucapan selamat Natal dari KH. Ma’ruf Amin dengan menggunakan kostum Sinterklas. Di lain pihak, pasca Prabowo menyampaikan selamat Natal, beredar pesan yang menyatakan bahwa Prabowo sudah memeluk agama Kristen dan setiap Minggu beribadah di gereja.

Baca juga  Meskipun Hoax, Pesta Gay di Tangsel Akan Jadi Bahan Kajian Mahasiswa

Menurut Dodi isu yang terus digiring mempengaruhi opini masyarakat menjadi polemik yang secara masif dapat mengancam identitas kebangsaan saat ini. Persoalan intoleransi harus diputus demi bangsa yang utuh kedepannya dalam bingkai NKRI.

“Sebaiknya masing-masing paslon tidak hanya beradu ucapan, namun juga tindakan yang nyata untuk menunjukkan komitmen kebangsaan mereka. Paslon seharusnya mengingatkan dan menegur tim sukses ataupun simpatisan yang masih menggunakan narasi identitas agama sebagai bahan kampanye. Selain itu menyatakan sikap yang tegas terkait peristiwa-peristiwa intoleran yang terjadi di berbagai daerah pada beberapa bulan terakhir ini. Agar spirit keberagaman jangan hanya pada tataran elit namun juga merambat ke akar rumput” ujarnya.

Dodi menyayangkan, tidak ada satupun paslon yang berani menunjukkan sikap terkait peristiwa intoleran yang terjadi, antara lain penyegelan tiga Gereja di Jambi, ataupun peristiwa yang terjadi di Yogya, Pangandaran, dan yang terbaru di Cilacap. Pada akhirnya isu toleransi dan merawat keberagaman hanya menjadi narasi politik, minim tindakan yang seharusnya bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi masing-masing pendukung.

Baca juga  Viral Disosmed!! Ketua DPRD Pemalang Tuai Kecaman Nitezen

Dodi juga berharap melalui kongerensi pers ini dapat membuka cakrawala berpikir masyarakat dalam menilai kualitas calon pemimpin bangsa saat ini. Pilpres menjadi nafas baru dalam menwntukan pimpinan untuk keberlangsungan Indonesia.

“Masing-masing paslon seharusnya sadar bahwa kampanye berdasarkan identitas agama adalah bom waktu yang dapat mengorbankan identitas kebangsaan kita. Dibutuhkan keberanian dari setiap paslon untuk menunjukkan sikap yang tegas terkait pandangan kebangsaan dan tidak bermain di ruang abu-abu. Masih ada waktu, sebelum kondisi toleransi kehidupan berbangsa semakin parah dan semakin marak terjadi segregasi di tengah masyarakat kita”. tutupnya. (SN/Red).

 

 

Tentang Suara Nesia

Kritis Mencerdaskan Bangsa

Lihat Juga

PSDH : Laporan Pemkot Baubau Terhadap Aktivis KAKP adalah Pemberangusan Terhadap Kebebasan Berpendapat.

Rilis Pers Pusat Studi Hukum & Demokrasi Sultra (PSDH) Negara Demokrasi memberi jaminan kepada setiap …

Tinggalkan Balasan

SuaraNesia.co
%d blogger menyukai ini: