Beranda > Opini > Menolak Amnesia! Catatan Refleksi Kasus Korupsi Dan Pelanggaran Masa Lalu

Menolak Amnesia! Catatan Refleksi Kasus Korupsi Dan Pelanggaran Masa Lalu

Oleh : Alan Christian Singkali

Bangsa Indonesia akan memasuki babak baru perjalanan sejarah bangsa. Tahun 2019 tercatat akan menjadi Pemilihan Umum ke 12 yang akan dilaksanakan oleh Republik Indonesia. Sejak Pemilu 1955, peserta pemilu telah banyak menina-bobokan masyarakat dengan sejuta janji perbaikan kehidupan rakyat. Kepemimpinan Nasional tidak menciptakan soliditas bangsa, yang berdampak pada demokrasi, keadilan, serta kesejahteraan yang jauh dari harap. Hal ini bermula sejak gonta-ganti kabinet Syahrir dan Amir yang tak mendapat ruang menyelesaikan tugas dengan baik. Sehingga kemudian kedatangan Orde Baru bak ratu adil yang dinantikan.

Jaman Orde Baru yang diidam-idamkan juga ternyata mencatatkan sejarah kelam penindasan negara terhadap rakyat. Ratu adil tak kunjung nampak, malah Rahwana yang hadir di depan mata. Kolusi dan nepotisme berujung korupsi uang rakyat, tidak kalah bengisnya dengan penculikan aktivis yang faktanya ada pelanggaran HAM berat. Oleh karena itu tak perlu komando lebih, pada penghujung milenium, rakyat bersatu merebut kedaulatan.

Reformasi tiba, janji-janji agenda reformasi digaungkan di seantero negeri. Penuntasan kasus korupsi Soeharto, juga pengadilan pelanggaran HAM berat atas beberapa peristiwa, a.l. Kasus Priok, Tasikmalaya, dan penculikan aktivis ternyata tidak selesai sampai hari ini. Malah yang terlibat masih banyak berkeliaran, berlenggang kangkung, berkompetisi lagi, bagai tak ada dosa.

Baca juga  Puspolkam: Komposisi Kepemimpinan Polri: Konsolidasi dan Dedikasi Bagi Indonesia

Hari ini banyak disalahkan tanpa melihat rentetan panjang dari peristiwa masa lalu yang kejam. Hari ini dianggap berdiri sendiri, tanpa ada sabab-musabab. Padahal tak tahukah mereka beratnya beban meningkatkan pertumbuhan ekonomi sampai rata-rata 4,7%. Juga beratnya beban  menghapus imej pemerintahan korup. Angka intoleransi hari ini sampai menjadi borok yang berpotensi seperti negara-negara Timur Tengah, juga warisan siapa?

Catatan Refleksi Hari Anti Korupsi (9 Desember) dan Hari Hak Asasi Manusia Internasional (10 Desember) yang kebetulan berdekatan, perlu menjadi perhatian kritis kita. Adakah harapan akan penuntasan kasus-kasus masa lalu ketika kita salah memilih wakil kita di legislatif ataupun salah memilih pemimpin eksekutif kita? Pilihannya jelas, batasannya tidak kabur. Pilah-pilih yang memberi harapan bukan ketakutan.

Anak muda milenial yang sebentar lagi akan memegang kendali hampir semua lini produksi perlu selalu diingatkan akan pilihan-pilihan masa depan. Agar tidak ada penyesalan ke sekian kalinya bagi generasi baru ini. Harus terus diingatkan bahwa Kolusi, Nepotisme, dan Korupsi tidak kalah bengisnya daripada kejahatan perang sekalipun, dan aksi intoleransi tidak kalah kejamnya dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia itu sendiri. Ayo optimis!

Baca juga  Jasa Pahlawan Perempuan Yang Terabaikan dan Menjadi Pahlawan Masa Kini

 

Penulis adalah Koordinator Jaringan Milenial Anti-Intoleransi dan Anti-Korupsi (Jaring Milea)

Tentang Suara Nesia

Kritis Mencerdaskan Bangsa

Lihat Juga

Mualimin Melawan Pemberi Warna HMI

(Ditulis oleh: Sekretaris Umum HMI Cabang Cilegon, Fauzul Imam Syafi’i) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) makin …

Tinggalkan Balasan

SuaraNesia.co
%d blogger menyukai ini: