Beranda > Regional > Ketika Anak Aceh Merasa Lebih Papua

Ketika Anak Aceh Merasa Lebih Papua

 

Siswa-siswi dari Aceh ketika di Papua (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)

Jayapura: Anggapan warga Papua sebagai penduduk primitif rupanya masih melekat pada benak anak-anak yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Bahkan mereka khawatir untuk menginjakkan kaki di Bumi Cenderawasih ini.

Namun pemikiran tersebut seketika luntur setelah mereka mengikuti seleksi program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) yang dicetus oleh Kementerian BUMN beserta beberapa perusahaan BUMN, untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.

Sebanyak 26 siswa termasuk tiga siswa yang memiliki keterbatasan (disabilitas) akhirnya terpilih dan melakukan perjalanan panjang lebih dari 7.000 kilometer menuju ujung timur Indonesia. Mereka memberanikan diri menetap di Tanah Papua selama sepekan tanpa orang tua atau keluarga.

Decak kagum terhadap Papua pun mulai dirasakan oleh mereka pada hari pertama tiba di Kota Jayapura. Salah seorang siswa kelas XI SMK 1 Nagan Raya Aceh Teuku M Mirza mengaku Kota Jayapura bahkan lebih maju dari daerah tempat tinggalnya. Bahkan Mirza berkelakar bila warna kulitnya jauh lebih gelap dibandingkan dengan orang asli Papua.

“Kami pikir semuanya primitif ternyata malah lebih bagus dari Aceh. Lihat kulit saya bahkan lebih hitam, bisa-bisa saya disebut orang asli sini,” ujar Mirza, kepada Medcom.id dengan logat Papua, saat berkunjung ke SMK YPPK Taruna Darma, Jayapura, Papua, Kamis, 16 Agustus 2018.

Baca juga  Warga Sumenep Gelar Upacara Bendera di Atas Sungai

Kekaguman terhadap eksotisme dan kebudayaan Papua semakin berlanjut setelah mereka menghabiskan waktu selama sepekan. Mereka tak cuma mengunjungi sekolah-sekolah, museum antropologi, atau mempelajari industri lokal tapi juga menginap di rumah penduduk.

Fahira Mulya Suhady, siswi kelas XI SMAN 1 IDI Rayeuk Aceh Timur mengaku diperlakukan dengan sangat baik meski berbeda suku dan agama. Ia merasa betah karena anggapannya tentang Papua jauh berbeda dengan realita. Apalagi infrastruktur berupa jalan dan jembatan sudah tergarap secara baik.

“Toleransinya tinggi dan kami disambut dengan baik. Semua yang saya pikirkan tentang Papua berubah, ternyata di sini aman dan damai,” ungkapnya.

Saat berkunjung ke dua sekolah di Jayapura, mereka disambut dengan berbagai tari dan nyanyian Papua. Sebaliknya, anak-anak Aceh juga menampilkan tarian tradisional mereka. Tak ketinggalan mereka juga menikmati tradisi bakar batu dengan menu ayam panggang yang dipastikan halal untuk anak-anak dari Serambi Mekah itu.

Mereka tampak saling mengagumi  dan mengaku bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. “Kami bangga menjadi anak Indonesia,” ujar Fahira.

Baca juga  Peringati HUT ke-73 RI, TGB Ingatkan Makna Kemerdekaan

Menurut Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Gigih Prakoso, program SMN yang dicetus Kementerian BUMN menjadi bagian dari tanggung jawab Pertamina agar generasi muda dapat mengenal Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Setelah kembali ke daerah asalnya, para siswa diharapkan dapat mensosialisasikan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama berada di Tanah Papua.

“Setelah kembali mereka bisa mensosialisasikan dan meningkatkan wawasan nusantara dan bahwa Indonesia itu tak cuma Aceh,” imbuh seusai memimpin upacara HUT ke-73 RI di Terminal BBM Jayapura, Jumat 18 Agustus 2018.

Direktur Logistik dan Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina Gandhi Sriwidodo menambahkan pada SMN 2018 ini, Pertamina mengambil bagian dalam pertukaran pelajar dari Papua ke Aceh, serta menerima anak-anak Aceh yang bertukar ke Papua.

“Di masa saat ini, kita perlu memupuk rasa kebanggaan atas Tanah Air melalui kekayaan budaya Indonesia. Program SMN menjadi salah satu sarana bagi anak-anak Indonesia untuk secara langsung terlibat dalam budaya yang berbeda dari kesehariannya, sehingga sepulangnya dari program ini diharapkan anak-anak makin menghormati keragaman budaya Indonesia,” jelasnya.

Baca juga  Makna Kemerdekaan Ala Risma

Sebagai informasi, sebanyak 26 pelajar dari Aceh telah berada di Jayapura, Papua, sejak 11 Agustus 2018. Mereka mengikuti berbagai kegiatan seperti, bedah buku “Cerita Nusantara Kami”, mengunjungi sejumlah objek wisata, bertandang ke sejumlah sekolah, dan  menginap di Rindam XVII Cenderawasih.

Mereka dikoordinir oleh PT Pertamina (persero) dan Perum Damri selaku BUMN Person in Charge (PiC) dan Co PiC, atau pihak yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan BUMN Hadir Untuk Negeri 9BHUN) 2018 di Provinsi Papua.

source: http://ekonomi.metrotvnews.com/mikro/xkEnl63K-ketika-anak-aceh-merasa-lebih-papua

Tentang Suara Nesia

Kritis Mencerdaskan Bangsa

Lihat Juga

BARAK Kembali Desak Polrestabes Bandung Usut Tuntas Kasus Kekerasan Dibawah Umur

SUARANESIA.CO-BANDUNG,- Gerakan masyarakat sipil dari Barisan Aksi (BARAK) Pemuda dan Mahasiswa melakukan aksi lanjutan di …

Tinggalkan Balasan

SuaraNesia.co
%d blogger menyukai ini: