Beranda > Nasional > Harun Masiku Melenggang Bebas, GMNI: KPK Telah Kehilangan Taji

Harun Masiku Melenggang Bebas, GMNI: KPK Telah Kehilangan Taji

Suaranesia.co-Komisariat Universitas Kristen Indonesia Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia gelar aksi menyoal kasus Harun Masiku yang penyelesaian belum menemui titik terang. Aksi ini dilaksanakan di depan Gedung KPK RI, Jakarta, Jumat (13/3/2020).

Diketahui, Harun Masiku menjadi DPO setelah tersangka dalam kasus suap kepada Wahyu Setiawan, salah satu Komisoner KPU yang saat ini sudah menjadi tersangka dan sedang dalam tahanan KPK.

Selaku orator aksi, Batara Budiono Siburian menyampaikan, Masiku telah lenyap. Sekali lagi, lenyap. Kalian tidak sedang bermimpi tentang KPK yang akan kehilangan tajinya di suatu hari nanti.

“KPK telah kehilangan tajinya. Sejak pertama kali didirikan, baru kali ini KPK tidak mampu mengungkap sebuah kasus. Entah berpura-pura tidak mampu atau tidak mau memampukan dirinya sendiri dalam memberantas korupsi di tanah air, kita tidak tahu,” ujar Batara.

Lanjut Batara, KPK jangan menyalahkan masyarakat yang berpikir bahwa ada keterlibatan KPK dalam menutupi kasus ini. Karena pada nyatanya hari ini KPK tidak mampu menyingkap keterlibatan pihak yang terkait dalam kasus ini.

“Berbeda dengan Wahyu, sampai dengan hari ini Harun Masiku masih bisa melenggang bebas menghirup udara segar tanpa ada tanda-tanda lebih lanjut bahwa ia akan menyusul untuk menemani partner in crime-nya,” tambah Batara yang juga merupakan Ketua Komisariat UKI GMNI ini.

Untuk diketahui, Harun Masiku punya track record yang cukup mumpuni. Menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, dan kemudian mendalami bidang Hukum Ekonomi Internasional di University of Warwick, Inggris.

Sekembalinya ke tanah air, Masiku menekuni profesi sebagai advokat dibeberapa firma hukum maupun perusahaan ternama di Indonesia. Selain itu, Masiku juga menjajal peruntungannya di dunia perpolitikan tanah air.

Setelah bergabung dengan Partai Demokrat, yang merupakan partai penguasa saat itu, Masiku sukses memenangkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono di daerah pemilihan Sulawesi Tengah pada tahun 2009.

Dua tahun setelahnya, Masiku sempat menjadi staff ahli anggota Komisi III DPR RI. Puncak perjalanan karir politiknya terjadi ketika Masiku memutuskan untuk maju menjadi calon anggota DPR RI di tahun 2019 mewakili Dapil Sumatera Selatan I. Kendaraan politiknya kali itu adalah PDI Perjuangan, yang “kebetulan” juga merupakan partai penguasa saat ini.

Berbicara mengenai partner in crime, lanjut Batara, kasus suap ini tidak hanya melibatkan Wahyu dan Masiku. Tapi juga turut menyeret nama Hasto Kristiyanto yang merupakan Sekjen DPP PDI Perjuangan saat ini.

“Dugaan keterlibatan Hasto terkuak ketika Saeful, salah satu tersangka lainnya dalam kasus ini yang merupakan mantan anak buah Hasto, turut menyebut nama Hasto pada saat awal diperiksa oleh KPK. Meskipun setelahnya Saeful menyangkal pernyataannya sendiri dalam pemeriksaan lebih lanjut oleh KPK,” tutup Batara.

Baca juga  HUT Bhayangkara, Presiden Jokowi Salami Tamu Undangan

Tentang Suara Nesia

Kritis Mencerdaskan Bangsa

Lihat Juga

GMM mendesak KPK RI Memeriksa Ketua DPRD Bursel dan Anggotanya

Gerakan Mahasiswa Menggugat (GMM) melakukan aksi di depan KPK RI terkait dengan permasalahan yang terjadi …

Tinggalkan Balasan

SuaraNesia.co
%d blogger menyukai ini: