Beranda > Umum > Guru Dikebiri: PGRI Bungkam

Guru Dikebiri: PGRI Bungkam


Akhir-akhir ini ketika kita melihat kondisi bangsa indonesia tidak lepas dari problematika mendasar yang seringkali mendiskriminasi banyak pihak sebagai bentuk pelanggaran yang sifatnya tidak berprikemanusiaan.

Lagi-lagi pemerintah lepas tangan terkait masa depan guru di indonesia. Makna merdeka bukan berarti sejahtera untuk guru di seluruh penjuru negeri, padahal perlu kita ketahui bersama bahwa kesuksesan masing-masing individu yang menjabat sebagai mentri, kapolri, panglima bahkan presiden sekalipun saat ini tidak lepas dari yang namanya guru. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, mereka tak butuh itu semua. Yang mereka butuhkan adalah kelayakan untuk hidup demi masa depan yang lebih baik.

Menyikapi hal ini, saya Fahmi Zamzami selaku Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. “Merasa kecewa atas kinerja PGRI yang dinilai tidak bisa memperjuangkan Kesejahteraan Guru Honorer serta Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja ( P3K ) di Indonesia, karena jelas sangat mendiskriminasi masa depan guru. Seharusnya PGRI serius memperjuangkan masa depan guru, bukan sekedar menghimpun untuk suatu kepentingan politik dan kepentingan golongan semata.”

Hal ini diperparah lagi dengan ditutupnya PNS oleh pemerintah. Berdasarkan pasal 96 PP 49 Tahun 2018, Deputi Sumber Daya Manusia Aparatur Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Setiawan Wangsaatmadja mengatakan pejabat pemerintah dilarang untuk mengangkat tenaga non-PNS atau non-PPPK untuk mengisi jabatan pegawai pelat merah. Dilanjutkan Pasal 99, disebutkan bahwa tenaga non-PNS masih bisa tetap melaksanakan tugas paling lama lima tahun setelah aturan itu terbit (Sumber : tempodotco). Artinya jika peraturan ini tetap diberlakukan, pemerintah tegas melupakan kesejahteraan para guru honorer sebab kebutuhan yang diterima tidak sebanding dengan jumlah guru honorer yang ada di Indonesia.

Baca juga  Pengurus Bapera di Banten Ramai-ramai Mundur 

Sementara kita ketahui Bersama, bahwa 20% APBN di gunakan untuk sektor Pendidikan. Kurang lebih ada 3 juta guru yang terdata, sekitar 45% berstatus PNS dan 55% adalah guru Honorer baik K2 maupun non-K. Hal ini sangat serius untuk diperjuangkan perihal masa depan para guru Honorer, suka tidak suka mereka sudah sangat berjasa bagi bangsa dan negara.

Lanjutnya Fahmi mengatakan “Kami mendesak kepada PGRI agar segera mendorong pemerintah untuk mengangkat guru Honorer menjadi PNS. Kami menolak program P3K sebab dinilai program ini tidak menjamin kesejahteraan guru, karena dengan sistem kontrak suatu waktu guru bisa saja diabaikan begitu saja tanpa dijamin masa depan yang sejahtera.”

Telah kita ketahui bersama, bahwa kesengsaraan guru lahir dari (aturan yg dikeluarkan oleh pemangku kebijakan yang tidak berperikemanusiaan). Ada apa dengan sosok guru ? sampai para individu pemangku kebijakan lupa akan jasa seorang guru yang membesarkan dalam hal keilmuan. Jika kita mendengar sedikit histori dari negeri sakura Jepang, saat Hirosima dan Nagasaki di BOM oleh Amerika.

Baca juga  Gereja Christ Cathedral di Kawasan Paramount Serpong Terbakar 

Hal pertama yang ditanyakan oleh seorang Kaisar adalah “ada berapa guru yang tersisa di negara ini ? untuk kita bangun kembali jepang”. Melihat histori dari negara maju tersebut, Seharusnya indonesia bisa mengambil pelajaran berharga.

Bahwa guru adalah suatu elemen penting dalam kemajuan sebuah bangsa, namun faktanya guru menjadi hal yang seringkali mendapat pengabaian di negeri ini.

“Kami meminta PGRI Pusat agar serius dalam menangani masalah ini, kami mendorong PGRI untuk tetap memperjuangkan hak-hak guru demi kebaikan masa depan guru. Jika memang PGRI tidak bisa memperjuangkan hal ini, kami menyarankan organisasi PGRI untuk di bubarkan karena sudah tidak bisa memperjuangkan nasib guru lagi atau meminta pimpinan PGRI segera mundur dari jabatan karena sudah gagal memimpin PGRI.” Tegasnya

Ini bukanlah hal konyol yang kita perlu tertawakan, namun ini hal serius yang perlu kita perjuangkan.
Ketika masa depan para Koruptor lebih menjanjikan daripada masa depan seorang Guru.

Tentang Suara Nesia

Kritis Mencerdaskan Bangsa

Lihat Juga

PW SEMMI Jakarta Raya Mengajak Masyarakat Mematuhi Himbauan Pemerintah Untuk Melawan Pandemik

Pengurus Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Jakarta Raya (PW SEMMI JAKRAY) Ramdhan Agung Giri Nugroho, mengajak …

Tinggalkan Balasan

SuaraNesia.co
%d blogger menyukai ini: